Setiap muslim idealnya harus bisa
balance pada 3 aspek penting, yaitu keimanannya harus bagus, prestasinya bagus,
serta kontributif. Ia mampu memberi kontribusi aktif ke lingkungan sekitarnya.
Ketika menjadi mahasiswa, kita
dituntut juga aktif membantu sesama baik kepada teman, tetangga kosan maupun
orang lain. Bila dihitung secara materi mungkin tidak langsung memberi
keuntungan sama sekali. Hal ini disebabkan adanya ego manusia berupa hawa nafsu
yang bila didominasi tanpa keimanan akan sangat materialistis, selalu ada pola pikir
, “apa untungnya ini buat gue?”.
Tantangan yang dihadapi saat ini adalah
sistem pendidikan kita sangat mengagung-agungekan materialisme, dimana kita
harus meraup untung sebanyak-banyaknya dengan upaya seminim-minimnya.
Namun, kembali kita ingat akan
perkataan manusia mulia sepanjang massa, Rasulullah saw., bahwa manusia yang
terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Maka muslim dituntut
untuk menjadi manusia paripurna yaitu yang kebermanfaatannya dapat dirasakan oleh
orang lain. Hati-hati jika hari ini kita hanya mengejar sesuatu yang bersifat duniawi,
bisa dibilang hidupnya tidak balance.
Ketika kita hanya focus mengejar
nilai setinggi-tingginya, ingin meraih prestasi setinggi-tingginya, mencapai
kesuksesan diri tanpa dilandasi dengan keimanan dan tanpa memikirkan apa yang
bisa kita lakukan ataupun kontribusi apa yang bisa diberikan untuk membuat dunia
ini lebih baik.
Tak heran jika kini akhirnya banyak
orang yang pintar, banyak orang yang memiliki keterampilan bagus dan
intelektualnya tinggi tapi tidak ada manfaat dan kontribusinya untuk orang lain.
Oleh karena itu, yang harus jadi mindset kita sebagai muslim mulai hari ini
adalah bagaimana cara untuk dapat memberikan sebanyak-banyaknya bukan eksploitasi
sebesar-besarnya.
Mari sejenak kita buka Al-Quran
dalam surat Al Baqarah ayat 30-39 (dibaca juga artinya yah ^_^), tentang konsep
khalifatul ‘ardh. Allah beri kelebihan pada manusia dibandingkan dengan malaikat
dan ciptaan Allah yang lain berupa kemampuan berpikir untuk mengemban ilmu. Dengannya
Allah berikan amanah kepada manusia untuk memimpin dan mengatur bumi menjadi
lebih baik.
Maka memang tugas menjadi muslim
prestatif dan kontributif adalah peran yang Allah berikan untuk manusia. Kini
tugas kita adalah menjadikan ilmu-ilmunya Allah sebagai hal yang akan menjadikan
buah karya kebaikan kelak. Semua potensi dan kemudahan yang sekarang sudah kita
dapatkan adalah privilege yang Allah berikan untuk kita bagikan ke orang lain.
Umat terbaik adalah umat yang
dilahirkan kepada manusia untuk mengajak kebaikan dan mencegah keburukan. Orang
yang mau jadi leader adalah dia yang mampu berkontribusi menciptakan kebaikan.
Terkadang masih kita temui juga
orang-orang yang dalam tanda kutip tidak mau surga, yang berfikiran,” ngapain
si ngajak orang, ya baik mah baik aja sendirian”. Sebetulnya kontribusi ini adalah
bentuk tanggung jawab atas potensi yang kita miliki sekarang.
Sekarang kita kutip dari Hadits
Riwayat Tirmidzi, “Kaki anak Adam tidaklah bergeser pada hari kiamat dari sisi
Rabbnya sehingga akan ditanya tentang 5 hal; tentang umurnya untuk apa dia
habiskan, tentang masa mudanya untuk apa dia perjuangkan, tentang hartanya darimana
dia peroleh dan kemana dia belanjakan, dan tentang apa yang telah dia lakukan
dengan ilmunya”.
Sekarang giliran kita,
Peran terbaik apa yang kita
mainkan?
Apa yang akan kita persembahkan
untuk-Nya?
Ternyata bukan angka-angka atau
nilai dari ilmu yang dipertanyakan tapi buat apa ilmu yang telah didapat.
Allah juga sudah mention dalam
QS. Al-Qashash:77, yang pertama kali adalah tentang mencari pahala untuk
kebahagiaan negeri akhirat, privilege yang Allah kasih adalah untuk
mengupayakan hal itu. Sedangkan hal lainnya juga janganlah melupakan kenikmatan
hidup di dunia. Kebahagiaan dunia secukupnya saja tapi eksploitasi sebanyak-banyaknya
untuk upaya kebahagaiaan hidup di akhirat.
Mau tidak mau kontribusi amal yang
kita upayakan sebenarnya adalah bentuk dari rasa syukur kita karena Allah telah
berikan nikmat keimanan. Sehingga disebutkan dalam sebuah kisah bahwa rasulullah
saw. pun mengungkapkan syukurnya dengan sholat yang berjam-jam sampai kaki
beliau bengkak.
Kita tidak pernah tahu apakah di
akhir kehidupan kita masih dalam kondisi keimanan, maka jangan sampai membuat Allah
mencabut kenikmatan itu. Wujudkan segera dalam bentuk amal-amal kebaikan yang Allah
ridhoi.
Jadi apa yang kita kejar dalam
berkontribusi?
Maka kembali kita simak kandungan
dalam QS. As-shaf ayat 10-13, perniagaan paling untung kata Allah adalah
berdakwah dengan harta dan jiwa kita, lalu Allah balas dengan surga dan seisinya.
Ketika kita mau capek-capek
berkorban harta, waktu, pikiran dan semuanya hanya dengan mengingat hal ini
adalah untuk mendatangkan ridho Allah. Bentuk kesadaran bahwa jalan ini adalah
jalannya yang dipilih oleh para Rasul, para Shidiqin yang mati syahid. Semua itu
mampu mejadikan kita hidup dengan memiliki jiwa-jiwa yang tenang.
Banyak para ilmuwan dan cendekiawan
muslim terdahulu telah menciptakan karya hebat, semua karena dorongan iman. Sebagai
satu contoh ada Al khawarizmi menciptakan aljabar karena keresahan umat muslim saat
itu yang mengalami kesulitan dalam menghitung waris.
Bagaimana dengan kita hari ini, sebagai
mahasiswa, woman carier, dan seterusnya kira-kira kontribusi apa yang sudah kita berikan, karya-karya dan
amal-amal apa yang sudah kita lakukan dari ilmu yang sudah kita miliki? apakah
smuanya sudah dilandasi karena iman?
Langkah-langkah untuk menjadi
muslim prestatif dan kontributif ada 3 hal: pertama perbaiki diri sendiri, kedua
seru orang lain dan yang terakhir maksimal dalam berkontribusi. Ketiganya harus seiring sejalan,
tidak bisa aku perbaiki diri dulu deh baru nanti memperbaiki orang lain, yang
bisa seperti itu hanya Rasulullah saw. manusia teladan dan sempurna. Sedangkan kita
sebagai manusia biasa sering mengalami yang namanya futur (level keimanan yang
turun) jadi kita harus parallel, ya memperbaiki diri ya menyeru orang lain. Kenapa
diri sendiri harus diupayakan terus lebih baik lagi, sebab inilah yang akan
menghidupkan jiwa dalam upaya melakukan kontribusi.
Cara menghidupkan jiwa adalah dengan
menumbuhkan rasa cinta kepada Allah, Rasul dan berjihad dijalan-Nya. Cinta yang
ini tidak bisa hadir sendiri, beda cinta kepada uang, popularitas, jabatan,
apapun yang bersifat duniawi, itu pasti udah jadi defaultnya manusia dalam arti
tidak perlu diupayakan pasti sudah jadi kecintaan yang otomatis hadir dalam jiwa
manusia.
Sedangkana cinta pada Allah dan Rasul
harus ditumbuhkan dengan memperbaiki hubungan pada Allah. Salah 1 indikatornya dengan
melihat intensitas kita kepada alquran, interaksi dengan Allah lewat ayat
cintanya. Semager apapun upayakan tetap tilawah minimal 1 juz, tidak hanya
membaca lewat lisan tapi memahami tafsir dan membaca Shirah Rasul juga. Belajar
dari para generasi terbaik /salafus shalih. Hal ini akan sangat membantu saat
mager berkontribusi melanda diri dan jiwa -jiwa kita.
Maksimalkan seluruh potensi yang Allah
beri, self development, suka belajar, suka mempelajari hal baru, menjalankan
peran saat ini sebaik-baiknya, tentunya semuanya dilakukan karena Allah.
Karena perlu disadari juga bahwa setiap
kita adalah da’i, penyeru. Dimana saja kita berada kita harus mampu menyeru kebaikan
dan mencegah keburukan. Baik dimedsos ataupun real life.
Pandemic ini banyak para bintang
Allah yang telah berpulang, kita tidak tahu sudah sampai manakah kaderisasi
ini. Maka pilihan taat adalah sikap yang terbaik. Saat membuat life plan, sambil
pikirkan. Apakah yang bisa kita berikan dari apa yang kita miliki saat ini,
kebaikan apa yang bisa kita ulurkan. Kontribusi apa yang bisa kita lakukan.
Sekali lagi,
Tentang berkarya, ternyata bukan
tentang seberapa lengkap fasilitas yang kita miliki, bukan tentang seberapa mahal
peralatan yang kita punya. Ini tentang keimanan yang berpadu dalam ketaatan. Seberapa
kuat ia menggebu untuk mampu bermanfaat bagi sebanyak mungkin manusia.
Jika suatu saat, kita berada
dalam kondisi yang mengharuskan kita untuk menjalankan sesuatu yang bukan
passion kita, tapi mampu mendekatkan pada Allah, maka lakukanlah dan cintai
pekerjaan itu dalam-dalam. Nanti akan kita temui berjuta hikmah indah mengharukan.
Selamat berkontribusi, melebarkan
aksi nyata, meninggalkan jejak kebaikan sebaik-baiknya, dalam upaya menabung
pahala jariyah, sehingga ridho Allah kita raih, dan kelak Rasul bangga pada
kita, umatnya yang merindukan syafaat saat perjumpaan dengan beliau di surga kelak
menjadi nyata.