Sabtu, 31 Juli 2021

Menjadi Muslim Kontributif (Pengalaman Bergabung Kerelawanan di Berbagai Komunitas Sosial)

 

Setiap muslim idealnya harus bisa balance pada 3 aspek penting, yaitu keimanannya harus bagus, prestasinya bagus, serta kontributif. Ia mampu memberi kontribusi aktif ke lingkungan sekitarnya.

Ketika menjadi mahasiswa, kita dituntut juga aktif membantu sesama baik kepada teman, tetangga kosan maupun orang lain. Bila dihitung secara materi mungkin tidak langsung memberi keuntungan sama sekali. Hal ini disebabkan adanya ego manusia berupa hawa nafsu yang bila didominasi tanpa keimanan akan sangat materialistis, selalu ada pola pikir , “apa untungnya ini buat gue?”.

Tantangan yang dihadapi saat ini adalah sistem pendidikan kita sangat mengagung-agungekan materialisme, dimana kita harus meraup untung sebanyak-banyaknya dengan upaya seminim-minimnya.

Namun, kembali kita ingat akan perkataan manusia mulia sepanjang massa, Rasulullah saw., bahwa manusia yang terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Maka muslim dituntut untuk menjadi manusia paripurna yaitu yang kebermanfaatannya dapat dirasakan oleh orang lain. Hati-hati jika hari ini kita hanya mengejar sesuatu yang bersifat duniawi, bisa dibilang hidupnya tidak balance.

Ketika kita hanya focus mengejar nilai setinggi-tingginya, ingin meraih prestasi setinggi-tingginya, mencapai kesuksesan diri tanpa dilandasi dengan keimanan dan tanpa memikirkan apa yang bisa kita lakukan ataupun kontribusi apa yang bisa diberikan untuk membuat dunia ini lebih baik.

Tak heran jika kini akhirnya banyak orang yang pintar, banyak orang yang memiliki keterampilan bagus dan intelektualnya tinggi tapi tidak ada manfaat dan kontribusinya untuk orang lain. Oleh karena itu, yang harus jadi mindset kita sebagai muslim mulai hari ini adalah bagaimana cara untuk dapat memberikan sebanyak-banyaknya bukan eksploitasi sebesar-besarnya.

Mari sejenak kita buka Al-Quran dalam surat Al Baqarah ayat 30-39 (dibaca juga artinya yah ^_^), tentang konsep khalifatul ‘ardh. Allah beri kelebihan pada manusia dibandingkan dengan malaikat dan ciptaan Allah yang lain berupa kemampuan berpikir untuk mengemban ilmu. Dengannya Allah berikan amanah kepada manusia untuk memimpin dan mengatur bumi menjadi lebih baik.

Maka memang tugas menjadi muslim prestatif dan kontributif adalah peran yang Allah berikan untuk manusia. Kini tugas kita adalah menjadikan ilmu-ilmunya Allah sebagai hal yang akan menjadikan buah karya kebaikan kelak. Semua potensi dan kemudahan yang sekarang sudah kita dapatkan adalah privilege yang Allah berikan untuk kita bagikan ke orang lain.

Umat terbaik adalah umat yang dilahirkan kepada manusia untuk mengajak kebaikan dan mencegah keburukan. Orang yang mau jadi leader adalah dia yang mampu berkontribusi menciptakan kebaikan.

Terkadang masih kita temui juga orang-orang yang dalam tanda kutip tidak mau surga, yang berfikiran,” ngapain si ngajak orang, ya baik mah baik aja sendirian”. Sebetulnya kontribusi ini adalah bentuk tanggung jawab atas potensi yang kita miliki sekarang.

Sekarang kita kutip dari Hadits Riwayat Tirmidzi, “Kaki anak Adam tidaklah bergeser pada hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga akan ditanya tentang 5 hal; tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa dia perjuangkan, tentang hartanya darimana dia peroleh dan kemana dia belanjakan, dan tentang apa yang telah dia lakukan dengan ilmunya”.

Sekarang giliran kita,

Peran terbaik apa yang kita mainkan?

Apa yang akan kita persembahkan untuk-Nya?

Ternyata bukan angka-angka atau nilai dari ilmu yang dipertanyakan tapi buat apa ilmu yang telah didapat.

Allah juga sudah mention dalam QS. Al-Qashash:77, yang pertama kali adalah tentang mencari pahala untuk kebahagiaan negeri akhirat, privilege yang Allah kasih adalah untuk mengupayakan hal itu. Sedangkan hal lainnya juga janganlah melupakan kenikmatan hidup di dunia. Kebahagiaan dunia secukupnya saja tapi eksploitasi sebanyak-banyaknya untuk upaya kebahagaiaan hidup di akhirat.

Mau tidak mau kontribusi amal yang kita upayakan sebenarnya adalah bentuk dari rasa syukur kita karena Allah telah berikan nikmat keimanan. Sehingga disebutkan dalam sebuah kisah bahwa rasulullah saw. pun mengungkapkan syukurnya dengan sholat yang berjam-jam sampai kaki beliau bengkak.

Kita tidak pernah tahu apakah di akhir kehidupan kita masih dalam kondisi keimanan, maka jangan sampai membuat Allah mencabut kenikmatan itu. Wujudkan segera dalam bentuk amal-amal kebaikan yang Allah ridhoi.

Jadi apa yang kita kejar dalam berkontribusi?

Maka kembali kita simak kandungan dalam QS. As-shaf ayat 10-13, perniagaan paling untung kata Allah adalah berdakwah dengan harta dan jiwa kita, lalu Allah balas dengan surga dan seisinya.

Ketika kita mau capek-capek berkorban harta, waktu, pikiran dan semuanya hanya dengan mengingat hal ini adalah untuk mendatangkan ridho Allah. Bentuk kesadaran bahwa jalan ini adalah jalannya yang dipilih oleh para Rasul, para Shidiqin yang mati syahid. Semua itu mampu mejadikan kita hidup dengan memiliki jiwa-jiwa yang tenang.

Banyak para ilmuwan dan cendekiawan muslim terdahulu telah menciptakan karya hebat, semua karena dorongan iman. Sebagai satu contoh ada Al khawarizmi menciptakan aljabar karena keresahan umat muslim saat itu yang mengalami kesulitan dalam menghitung waris.

Bagaimana dengan kita hari ini, sebagai mahasiswa, woman carier, dan seterusnya kira-kira kontribusi  apa yang sudah kita berikan, karya-karya dan amal-amal apa yang sudah kita lakukan dari ilmu yang sudah kita miliki? apakah smuanya sudah dilandasi karena iman?

Langkah-langkah untuk menjadi muslim prestatif dan kontributif ada 3 hal: pertama perbaiki diri sendiri, kedua seru orang lain dan yang terakhir maksimal dalam  berkontribusi. Ketiganya harus seiring sejalan, tidak bisa aku perbaiki diri dulu deh baru nanti memperbaiki orang lain, yang bisa seperti itu hanya Rasulullah saw. manusia teladan dan sempurna. Sedangkan kita sebagai manusia biasa sering mengalami yang namanya futur (level keimanan yang turun) jadi kita harus parallel, ya memperbaiki diri ya menyeru orang lain. Kenapa diri sendiri harus diupayakan terus lebih baik lagi, sebab inilah yang akan menghidupkan jiwa dalam upaya melakukan kontribusi.

Cara menghidupkan jiwa adalah dengan menumbuhkan rasa cinta kepada Allah, Rasul dan berjihad dijalan-Nya. Cinta yang ini tidak bisa hadir sendiri, beda cinta kepada uang, popularitas, jabatan, apapun yang bersifat duniawi, itu pasti udah jadi defaultnya manusia dalam arti tidak perlu diupayakan pasti sudah jadi kecintaan yang otomatis hadir dalam jiwa manusia.

Sedangkana cinta pada Allah dan Rasul harus ditumbuhkan dengan memperbaiki hubungan pada Allah. Salah 1 indikatornya dengan melihat intensitas kita kepada alquran, interaksi dengan Allah lewat ayat cintanya. Semager apapun upayakan tetap tilawah minimal 1 juz, tidak hanya membaca lewat lisan tapi memahami tafsir dan membaca Shirah Rasul juga. Belajar dari para generasi terbaik /salafus shalih. Hal ini akan sangat membantu saat mager berkontribusi melanda diri dan jiwa -jiwa kita.

Maksimalkan seluruh potensi yang Allah beri, self development, suka belajar, suka mempelajari hal baru, menjalankan peran saat ini sebaik-baiknya, tentunya semuanya dilakukan karena Allah.

Karena perlu disadari juga bahwa setiap kita adalah da’i, penyeru. Dimana saja kita berada kita harus mampu menyeru kebaikan dan mencegah keburukan. Baik dimedsos ataupun real life.

Pandemic ini banyak para bintang Allah yang telah berpulang, kita tidak tahu sudah sampai manakah kaderisasi ini. Maka pilihan taat adalah sikap yang terbaik. Saat membuat life plan, sambil pikirkan. Apakah yang bisa kita berikan dari apa yang kita miliki saat ini, kebaikan apa yang bisa kita ulurkan. Kontribusi apa yang bisa kita lakukan.

Sekali lagi,

Tentang berkarya, ternyata bukan tentang seberapa lengkap fasilitas yang kita miliki, bukan tentang seberapa mahal peralatan yang kita punya. Ini tentang keimanan yang berpadu dalam ketaatan. Seberapa kuat ia menggebu untuk mampu bermanfaat bagi sebanyak mungkin manusia.

Jika suatu saat, kita berada dalam kondisi yang mengharuskan kita untuk menjalankan sesuatu yang bukan passion kita, tapi mampu mendekatkan pada Allah, maka lakukanlah dan cintai pekerjaan itu dalam-dalam. Nanti akan kita temui berjuta hikmah indah mengharukan.

Selamat berkontribusi, melebarkan aksi nyata, meninggalkan jejak kebaikan sebaik-baiknya, dalam upaya menabung pahala jariyah, sehingga ridho Allah kita raih, dan kelak Rasul bangga pada kita, umatnya yang merindukan syafaat saat perjumpaan dengan beliau di surga kelak menjadi nyata.

 [Terinspirasi dari Karya Farah Qoonita “Seni Tinggal di Bumi”]